Catatan pengalaman dan pembelajaran tentang HR dan KM

Monday, July 3, 2017

Mengapa perlu manajemen kinerja?

Bayangkan sekumpulan orang yang mempunyai hobi bermain sepakbola. Mereka bermain sepakbola hanya sekedar menyalurkan hobi sekaligus berkumpul dan berkeringat untuk menjaga kesehatan tubuh, itupun dilakukan belum tentu secara teratur. Tidak ada terbersit sedikitpun pikiran untuk membuat satu prestasi secara bersama-sama dari perkumpulan mereka ini. Masing-masing tentu hanya memikirkan keterampilan dirinya sendiri-sendiri untuk memenuhi harapan keberadaannya di perkumpulan ini.
Keadaannya tentu akan berbeda jika sekumpulan orang ini adalah para pemain sepakbola dari suatu klub yang punya visi dan misi yang jelas untuk berprestasi. Sudah pasti mereka akan berlatih secara serius dan disiplin agar bisa masuk dalam tim utama. Mereka tahu ada manajer dan pelatih yang menilai dan mengawasi keterampilan sepakbola mereka, dan ada prestasi tertentu yang harus mereka capai yang tentunya terkait dengan target klub itu sendiri. Disinilah terjadi proses manajemen kinerja karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan mudah kita dapat katakan, jangan harapkan klub tersebut akan berprestasi jika mereka tidak punya pemain yang berbakat dan disiplin berlatih, pelatih yang menguasai teknis sepakbola, dan tidak kalah pentingnya adalah manajer yang mempunyai kemampuan manajemen sepakbola. Sebagus apapun sarana klub tersebut tidak akan ada artinya jika semua manusia yang terlibat dalam mencapai visi dan misi klub tersebut tidak melakukan pelatihan dan permainan yang terkelola dengan baik, dalam hal ini disebut manajemen kinerja tim sepakbola.

Analogi klub sepakbola tersebut berlaku untuk organisasi bisnis maupun non-bisnis. Setiap organisasi pasti mempunyai visi dan misi yang menjadi acuan keberadaannya. Seperti halnya klub sepakbola tersebut diatas, acuan ini menuntut semua individu yang menggerakkan organisasi untuk menyelaraskan visi dan misi pribadinya agar organisasinya sukses. Disinilah dibutuhkan sistem manajemen yang disebut sistem manajemen kinerja. 
Prosesnya dimulai biasanya di awal tahun dengan menurunkan visi dan misi organisasi dalam bentuk target tahunan. Target tahunan organisasi ini disosilisasikan kepada setiap individu di organisasi yang kemudian meresponnya dalam bentuk rencana kerja tahunan yang memiliki deliverables yang jelas. Rencana kerja tahunan ini dimonitor secara berkala dan dipastikan selalu sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di dalam maupun di lingkungan organisasi. Pada akhir tahun dilakukan evaluasi pencapaian kinerja tersebut. Pencapaian kinerja ini harus konsisten dan bersifat agregat sampai ke level organisasi secara keseluruhan.
Lebih jauh hasil manajemen kinerja ini dimanfaatkan atau berguna untuk sistem manajemen sumber daya manusia lainnya. Misalnya manajemen remunerasi, manajemen pengembangan dan pelatihan, manajemen suksesi, manajemen talenta, dan lain sebagainya.

No comments:

Post a Comment